Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius kini menjadi perhatian internasional setelah sejumlah penumpang dilaporkan terinfeksi dan beberapa pasien meninggal dunia. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut masih ada kemungkinan muncul kasus tambahan karena masa inkubasi virus yang cukup panjang.
Kasus ini memicu respons cepat dari berbagai negara. Penumpang yang sempat berada di kapal mulai dilacak, dipantau, hingga menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai langkah antisipasi penyebaran lebih lanjut.
Meski begitu, WHO menegaskan risiko kesehatan masyarakat secara global masih tergolong rendah. Penyebab utamanya karena virus yang ditemukan, yakni Andes hantavirus, diketahui tidak menular semudah penyakit pernapasan lain seperti flu atau COVID-19.
Namun kemunculan wabah ini kembali membuat dunia menyoroti hantavirus, penyakit lama yang sebenarnya sudah dikenal puluhan tahun tetapi jarang menjadi perhatian besar publik.
Hantavirus Bukan Virus Baru
Banyak orang baru mendengar istilah hantavirus setelah wabah di kapal pesiar mencuat ke permukaan. Padahal virus ini telah lama dipelajari dunia medis sejak pertengahan abad ke-20.
Nama hantavirus berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan, lokasi tempat infeksi serupa pertama kali diteliti secara luas pada masa Perang Korea.
Sejak saat itu, para ilmuwan menemukan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus yang sebagian besar ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Virus tersebut hidup secara alami pada tikus tanpa menyebabkan hewan itu tampak sakit. Namun manusia dapat tertular ketika menghirup partikel kecil dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu.
Karena itu, sebagian besar kasus hantavirus di dunia selalu berkaitan dengan lingkungan yang terkontaminasi tikus.
Andes Virus Jadi Perhatian Utama
Kasus di MV Hondius dianggap berbeda karena melibatkan Andes virus, salah satu strain hantavirus paling langka yang diketahui dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.
Sebagian besar hantavirus hanya menyebar dari hewan pengerat ke manusia. Namun Andes virus memiliki karakteristik berbeda meski penularannya tetap sangat terbatas.
Para ahli menyebut penularan antarmanusia biasanya membutuhkan kontak dekat dalam waktu cukup lama, terutama saat pasien mulai mengalami gejala awal seperti demam.
Kasus seperti ini sebelumnya pernah dilaporkan di Argentina dan Chile, wilayah yang memang menjadi area utama penyebaran Andes virus.
Karena itulah wabah di kapal pesiar langsung memicu perhatian internasional. Lingkungan kapal yang tertutup dan interaksi antarpengunjung yang intens dinilai dapat meningkatkan risiko paparan bila ada pasien yang terinfeksi.
Gejalanya Sering Sulit Dikenali
Salah satu tantangan terbesar hantavirus adalah gejalanya yang pada awal infeksi terlihat seperti flu biasa.
Pasien umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, tubuh lemas, mual, muntah, dan batuk ringan. Sebagian pasien juga mengalami nyeri perut dan gangguan pencernaan.
Karena gejalanya umum, banyak orang tidak langsung menyadari bahwa mereka terinfeksi virus serius.
Pada kasus berat, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat. Infeksi bisa menyerang paru-paru hingga menyebabkan sesak napas berat dan penurunan kadar oksigen dalam tubuh.
Beberapa jenis hantavirus juga dapat menyerang ginjal dan menyebabkan gagal organ.
Tingkat kematian penyakit ini tergolong cukup tinggi pada sebagian kasus berat. Hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus.
Penanganan pasien masih berfokus pada terapi suportif seperti bantuan oksigen, cairan infus, dan perawatan intensif.
Indonesia Juga Pernah Temukan Kasus
Meski wabah terbaru terjadi di kapal pesiar internasional, Indonesia sebenarnya juga pernah mencatat kasus hantavirus.
Kementerian Kesehatan RI melaporkan puluhan kasus dalam beberapa tahun terakhir yang tersebar di sejumlah provinsi. Namun jenis virus yang ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus, bukan Andes virus seperti pada wabah MV Hondius.
Penularannya masih berkaitan dengan paparan tikus dan lingkungan yang terkontaminasi.
Otoritas kesehatan Indonesia menilai risiko masuknya Andes virus ke dalam negeri masih rendah. Meski begitu, pengawasan terhadap penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan tetap diperkuat.
Negara-negara Mulai Lacak Penumpang
Wabah di MV Hondius membuat sejumlah negara mulai melakukan pelacakan terhadap warga yang sempat berada di kapal tersebut.
Beberapa penumpang diminta menjalani pemantauan kesehatan dan isolasi mandiri sebagai langkah pencegahan. Otoritas kesehatan internasional juga terus bertukar informasi untuk memastikan potensi penyebaran dapat dikendalikan lebih cepat.
WHO sendiri telah mengirim tenaga ahli kesehatan ke kapal untuk membantu pemeriksaan medis terhadap awak dan penumpang.
Selain itu, alat diagnostik tambahan juga didistribusikan ke sejumlah negara guna mempercepat proses pemeriksaan laboratorium.
Meski situasi masih terus dipantau, para ahli menegaskan wabah ini belum menunjukkan tanda-tanda mengarah pada pandemi global.
Namun kasus hantavirus di MV Hondius menjadi pengingat bahwa penyakit lama yang selama ini jarang terdengar tetap bisa muncul kembali dan memicu kewaspadaan dunia, terutama di tengah mobilitas manusia internasional yang semakin tinggi.



















