Tren makanan viral kembali mengguncang media sosial. Kali ini, ubi cream cheese menjadi dessert yang paling banyak dibicarakan dan diburu banyak orang. Video antrean panjang di supermarket hingga konten review dengan jutaan penonton membuat camilan ini mendadak populer dalam waktu singkat.
Perpaduan ubi kukus yang lembut dengan cream cheese gurih dan topping manis memang terlihat menggoda. Banyak orang penasaran karena dessert ini disebut punya rasa creamy yang bikin ketagihan, tetapi tetap dianggap lebih sehat dibanding jajanan manis lainnya.
Tidak sedikit yang mulai menjadikan ubi cream cheese sebagai alternatif dessert saat diet. Bahan dasarnya yang menggunakan ubi membuat camilan ini dianggap lebih aman dibanding cake, pastry, atau roti manis.
Namun dokter gizi mengingatkan bahwa anggapan tersebut belum tentu sepenuhnya benar.
Meski ubi dikenal sebagai bahan makanan bergizi, tambahan topping pada dessert viral ini justru bisa membuat kandungan kalorinya meningkat cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, ubi cream cheese tetap berpotensi mengganggu pola makan sehat dan program penurunan berat badan.
Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK menjelaskan bahwa ubi memang memiliki manfaat yang baik untuk tubuh. Dibanding nasi putih, ubi mengandung lebih banyak serat sehingga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Selain itu, ubi termasuk karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat di dalam tubuh. Karena penyerapannya tidak terlalu cepat, ubi sering dipilih sebagai sumber energi alternatif bagi orang yang ingin menjaga pola makan.
Namun manfaat tersebut bisa berubah ketika ubi diolah menjadi dessert dengan tambahan cream cheese, susu kental manis, gula, dan butter.
“Cream cheese-nya ini lemaknya cukup tinggi. Memang sih rasanya enak, tapi kadar lemak jenuhnya tinggi,” jelasnya.
Menurut dokter, kandungan lemak jenuh yang tinggi dapat menjadi masalah jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah besar. Apalagi banyak produk ubi cream cheese yang dijual saat ini menggunakan topping melimpah demi tampilan lebih menarik di media sosial.
Fenomena makanan viral memang sering mengutamakan visual. Semakin tebal cream cheese dan saus manis yang digunakan, semakin menggoda tampilannya di kamera.
Padahal tanpa disadari, jumlah gula dan lemak dalam satu porsi juga ikut meningkat drastis.
Dokter menjelaskan bahwa porsi ubi yang masih dianggap aman berada di kisaran 100 hingga 150 gram dalam satu kali makan. Jumlah tersebut sebenarnya sudah setara dengan satu porsi nasi sebagai sumber karbohidrat utama.
Artinya, ubi cream cheese tidak bisa dianggap sekadar camilan ringan yang bebas dikonsumsi berkali-kali dalam sehari.
Sementara untuk cream cheese, penggunaan sekitar 20 sampai 30 gram per porsi masih dianggap dalam batas wajar. Jika jumlahnya terlalu banyak, total kalori dan lemak jenuh dalam dessert bisa meningkat signifikan.
Selain cream cheese, tambahan susu kental manis juga menjadi perhatian. Banyak varian ubi cream cheese menggunakan saus manis tambahan untuk memperkuat rasa. Kombinasi inilah yang membuat kandungan gula dalam dessert menjadi lebih tinggi.
Akibatnya, manfaat sehat dari ubi perlahan tertutupi oleh dominasi gula dan lemak dari topping tambahan.
Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK mengatakan masyarakat sering terkecoh dengan label “dessert sehat” hanya karena bahan dasarnya menggunakan ubi.
Padahal, sebuah makanan tidak bisa dinilai sehat hanya dari satu bahan utama saja. Cara pengolahan dan tambahan topping tetap sangat menentukan kandungan gizinya secara keseluruhan.
Menurutnya, masalah utama muncul ketika orang merasa aman mengonsumsi ubi cream cheese dalam jumlah besar karena menganggapnya lebih sehat dibanding dessert lain.
Padahal jika total gula, lemak, dan kalorinya tetap tinggi, efeknya terhadap berat badan juga tidak jauh berbeda.
Kelompok tertentu bahkan diminta lebih berhati-hati saat mengonsumsi dessert viral ini. Pengidap diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung disarankan membatasi konsumsi cream cheese maupun topping tinggi gula lainnya.
Pada penderita diabetes misalnya, tambahan gula dari susu kental manis dapat memicu lonjakan gula darah lebih cepat. Sementara kandungan lemak jenuh dari cream cheese bisa menjadi beban tambahan bagi kesehatan jantung.
Karena itu, dokter menyarankan ubi cream cheese tidak dijadikan menu harian. Konsumsi sesekali, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali, masih dianggap aman selama porsinya tetap dijaga.
Bagi masyarakat yang sedang diet tetapi tetap ingin mencoba tren ini, ada beberapa cara sederhana agar konsumsi lebih aman. Pilih ukuran porsi kecil, kurangi topping tambahan, dan hindari saus manis berlebihan.
Selain itu, penting untuk tetap memperhatikan total asupan kalori harian agar konsumsi dessert tidak mengganggu pola makan secara keseluruhan.
Tren makanan viral memang selalu menarik perhatian, terutama jika dikemas dengan tampilan estetik dan dianggap lebih sehat. Namun masyarakat tetap perlu memahami bahwa tubuh tidak hanya melihat nama atau tren sebuah makanan, melainkan menghitung jumlah kalori, gula, dan lemak yang masuk setiap hari.
Ubi memang memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan. Tetapi ketika dipadukan dengan cream cheese tebal dan topping manis berlebihan, dessert ini tetap perlu dinikmati secara bijak agar tidak berubah menjadi sumber kalori tersembunyi yang mengganggu pola hidup sehat.



















