Kepergian ibunda Anji Manji, Siti Sundari, masih meninggalkan rasa kehilangan yang begitu dalam bagi keluarga. Di tengah suasana duka tersebut, tersimpan cerita yang membuat banyak orang ikut tersentuh. Anji mengungkap ada hubungan spesial yang selama ini ia rasakan bersama sang ibu dan putranya, Saga Omar Nagata.
Bukan sekadar kedekatan biasa, ketiganya ternyata lahir di tanggal yang sama. Fakta itu selama bertahun-tahun menjadi momen unik yang selalu dirayakan bersama keluarga. Setiap kali hari ulang tahun tiba, suasana rumah mereka terasa lebih hangat karena ada tiga generasi yang merayakan hari lahir secara bersamaan.
Anji menyebut kebersamaan itu kini terasa jauh lebih emosional setelah sang ibu berpulang. Ia mengaku baru benar-benar menyadari betapa berharganya momen sederhana yang dulu sering dianggap biasa. Dari makan bersama sampai meniup lilin ulang tahun, semuanya kini berubah menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Di hadapan awak media, pelantun Dia itu sempat mengatakan bahwa cerita tentang tanggal lahir tersebut bukan lagi sekadar fakta lucu. Baginya, itu justru menjadi kenangan yang mengandung kesedihan sekaligus rasa syukur karena pernah memiliki momen indah bersama ibunda tercinta.
Wina Natalia Kenang Momen Kelahiran Saga
Mantan istri Anji, Wina Natalia, juga ikut menceritakan bagaimana spesialnya kehadiran Saga di tengah keluarga mereka. Menurut Wina, saat itu semua orang merasa terkejut karena bayi mereka lahir tepat di tanggal yang sama dengan Anji dan sang nenek.
Bagi keluarga besar mereka, kejadian tersebut seperti hadiah yang tidak direncanakan. Wina bahkan menyebut kelahiran Saga menjadi salah satu momen paling membahagiakan untuk ibu mertuanya. Sejak saat itu, perayaan ulang tahun selalu dilakukan bersama dengan suasana penuh canda dan cerita keluarga.
Wina mengingat bagaimana Siti Sundari selalu tampak bahagia setiap kali ulang tahun tiba. Sang nenek sering menyiapkan makanan favorit keluarga dan menikmati waktu berkumpul bersama cucu-cucunya. Hal sederhana seperti itu justru yang sekarang paling dirindukan.
Kehangatan hubungan keluarga Anji memang sering terlihat di media sosial. Namun di balik itu semua, mereka ternyata menyimpan banyak momen personal yang tidak semua orang tahu. Salah satunya tentang kedekatan Siti Sundari dengan Saga yang disebut sangat lengket sejak kecil.
Tiga Bulan Terakhir Jadi Kenangan Mendalam
Sebelum meninggal dunia, Siti Sundari diketahui sempat tinggal dekat rumah Anji. Musisi tersebut memang sengaja ingin lebih dekat dengan sang ibu setelah bertahun-tahun sibuk bekerja di dunia hiburan.
Anji mengaku bersyukur masih diberi kesempatan merawat ibunya selama beberapa bulan terakhir. Meski tidak tinggal serumah, jarak rumah yang berdekatan membuat mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama.
Ada banyak aktivitas sederhana yang dilakukan keduanya. Mulai dari jalan pagi, berjemur, ngobrol santai, hingga sekadar menemani sang ibu di rumah. Anji mengatakan momen seperti itu dulu jarang bisa ia lakukan karena padatnya jadwal manggung.
Kini setelah sang ibu tiada, kenangan-kenangan kecil tersebut justru terasa sangat berharga. Anji bahkan mengaku mulai memikirkan ulang soal prioritas hidupnya. Ia merasa waktu bersama keluarga jauh lebih penting dibanding terus mengejar pekerjaan tanpa henti.
Detik-Detik Kepergian Sang Ibunda
Siti Sundari meninggal dunia pada 26 Maret 2026. Momen itu menjadi pengalaman emosional yang tidak akan dilupakan Anji sepanjang hidupnya. Ia menceritakan bahwa awalnya keluarga mengira sang ibu hanya tertidur seperti biasa.
Namun ketika dipanggil berkali-kali dan tidak merespons, keluarga mulai panik. Anji langsung berlari menuju rumah ibunya yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Saat itu ia masih berharap sang ibu bisa membuka mata dan kembali sadar.
Dengan suara bergetar, Anji sempat memanggil ibunya sambil mengguncang badan almarhumah perlahan. Ia mengatakan momen tersebut menjadi salah satu detik paling berat dalam hidupnya sebagai anak.
Meski demikian, Anji mencoba ikhlas menerima kenyataan. Ia bersyukur masih berada di sisi sang ibu pada saat-saat terakhir sebelum mengembuskan napas terakhir. Baginya, itu menjadi bentuk cinta terakhir yang bisa ia berikan kepada perempuan yang telah membesarkannya.
Anji Mulai Mengurangi Jadwal Pekerjaan
Kepergian sang ibu membuat Anji banyak melakukan refleksi tentang hidup. Ia mengaku mulai menyadari bahwa selama bertahun-tahun terlalu sibuk bekerja hingga kehilangan banyak waktu bersama keluarga.
Karena alasan itu, Anji memutuskan untuk mengurangi jadwal manggungnya mulai tahun ini. Jika sebelumnya ia bisa tampil berkali-kali dalam seminggu, kini ia ingin lebih banyak berada di rumah bersama anak-anaknya.
Menurut Anji, uang dan popularitas tidak selalu bisa menggantikan kehadiran seseorang di tengah keluarga. Ia tidak ingin menyesal karena terlalu sibuk mengejar pekerjaan hingga melewatkan banyak momen penting.
Keputusan tersebut mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya. Anji merasa pengalaman kehilangan ibunda menjadi pengingat bahwa waktu bersama keluarga adalah sesuatu yang tidak bisa diputar kembali.



















