Wisata Demo Menurut Dokter Jiwa

Jurnalharian.id – Situasi di Jakarta pada Rabu sampai siang ini masih belum menentu. Aparat ketenteraman dan pemerintah masih berjuang menciptakan situasi yang lebih aman serta kondusif menyusul aksi 22 Mei yang diwarnai kericuhan.

Di tengah situasi tersebut, media sosial diwarnai tren ‘wisata demo’ yaitu foto-foto selfie dekat dengan tempat kerusuhan. Rasa fobia dan cemas seolah tidak dialami mereka yang mengambil potret atau video dengan latar belakang massa pendemo, aparat yang bertugas, maupun keadaan lengang sebab sebagian ruas jalanan ibukota ditutup.

“Dunia medis menyebutnya sebagai narcisstic need, yakni saat keberadaan diri lebih urgen dalam kehidupan sehari-hari. Keinginan eksis dapat saja mengungguli rasa fobia dan cemas yang dialami dalam kondisi berbahaya,” kata Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi dr Lahargo Kembaren, SpKJ. Video dan potret tersebut lantas akan diunggah dan di-share dengan asa ada yang memberi apresiasi dalam format komen atau like.

Baca Juga : Perth, Kota Ramah Bagi Traveller Muslim

Apresiasi dirasakan akan meningkatkan keberadaan dan harga diri. Kepada masyarakat yang masih hendak mengambil potret dan video di tengah kerusuhan, dr Lahargo menganjurkan untuk beranggapan matang. Pikiran yang lebih rasional dan dewasa memungkinkan seseorang bisa beraksi lebih baik ketika berada di situasi yang berbahaya.