Virus Nipah kembali menjadi perhatian luas setelah muncul laporan kasus baru di India dan Bangladesh pada akhir 2025 hingga awal 2026. Sejumlah kasus dilaporkan berakhir dengan kondisi kritis bahkan kematian. Perkembangan ini memicu kewaspadaan di banyak negara Asia karena virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi serta potensi penularan antarmanusia.
Bagi Indonesia, isu virus Nipah tidak bisa dipandang ringan. Secara geografis dan ekologis, Indonesia memiliki kemiripan dengan negara-negara yang pernah mengalami wabah. Kelelawar buah sebagai inang alami virus Nipah juga tersebar luas di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, pemahaman yang jelas, sederhana, dan berbasis fakta menjadi penting agar masyarakat tetap tenang namun waspada.
Mengenal Virus Nipah
Virus Nipah adalah virus RNA yang termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae. Dalam keluarga ini juga terdapat virus penyebab campak dan gondongan. Namun, virus Nipah memiliki karakteristik yang berbeda karena mampu menyerang lebih dari satu sistem organ sekaligus, terutama sistem pernapasan dan sistem saraf pusat.
Menurut data dari World Health Organization, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia. Inang alaminya adalah kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae. Kelelawar ini hidup di banyak wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara.
Virus Nipah dapat berpindah dari kelelawar ke hewan lain, seperti babi, sebelum akhirnya menginfeksi manusia. Selain itu, virus ini juga memiliki kemampuan menular dari manusia ke manusia, terutama melalui kontak erat dengan pasien yang mengalami gejala berat.
Sejarah Wabah Virus Nipah
Virus Nipah pertama kali terdeteksi pada 1999 di Malaysia dan Singapura. Pada saat itu, wabah menyerang wilayah dengan konsentrasi peternakan babi yang tinggi. Ratusan orang dilaporkan terinfeksi dan lebih dari seratus orang meninggal dunia.
Penularan pada wabah awal tersebut terjadi dari kelelawar ke babi, kemudian ke manusia. Banyak pasien merupakan pekerja peternakan yang sering bersentuhan langsung dengan hewan sakit atau cairan tubuh hewan terinfeksi.
Setelah wabah di Malaysia, virus Nipah kembali muncul di Bangladesh dan India. Pola penularannya menunjukkan perbedaan. Di wilayah ini, penularan sering dikaitkan dengan konsumsi buah atau nira yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar. Selain itu, penularan antarmanusia juga lebih sering dilaporkan, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan.
Cara Penularan Virus Nipah
Penularan virus Nipah ke manusia terjadi melalui beberapa jalur utama. Jalur pertama adalah kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar dan babi. Virus dapat masuk melalui luka terbuka atau kontak dengan darah, air liur, dan urine hewan.
Jalur kedua adalah melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Buah yang sudah digigit kelelawar atau buah yang dibiarkan terbuka berisiko membawa virus. Nira atau aren yang disadap terbuka pada malam hari juga berpotensi terkontaminasi dan menjadi sumber penularan.
Jalur ketiga adalah penularan dari manusia ke manusia. Penularan ini biasanya terjadi melalui kontak erat dengan pasien, terutama melalui cairan tubuh seperti air liur dan lendir pernapasan. Risiko tertinggi ditemukan di lingkungan rumah sakit dan saat perawatan anggota keluarga.
Faktor lingkungan juga berperan penting. Penebangan hutan dan perubahan penggunaan lahan membuat kelelawar kehilangan habitat alami dan lebih sering mendekati pemukiman manusia dan area pertanian.
Gejala Infeksi Virus Nipah
Gejala awal infeksi virus Nipah sering menyerupai flu biasa. Karena itu, penyakit ini kerap sulit dikenali pada tahap awal. Masa inkubasi virus Nipah umumnya berkisar antara 4 hingga 14 hari, meskipun dalam beberapa kasus dapat berlangsung lebih lama.
Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, dan muntah. Sebagian pasien juga mengalami kelelahan, pusing, serta gangguan pernapasan ringan.
Pada tahap lanjutan, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat. Infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia atau gangguan pernapasan berat. Virus Nipah juga dapat menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis. Gejala ini meliputi penurunan kesadaran, disorientasi, perubahan perilaku, kejang, hingga koma dalam waktu singkat.
Sebagian pasien yang selamat dilaporkan mengalami gangguan saraf jangka panjang, seperti gangguan daya ingat dan kesulitan berkonsentrasi. Terdapat pula laporan kekambuhan setelah pasien dinyatakan sembuh.
Tingkat Kematian dan Dampaknya
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Sekitar 40 hingga 75 persen pasien yang terinfeksi dilaporkan meninggal dunia. Angka ini dapat berbeda pada setiap wabah, tergantung kesiapan sistem kesehatan dan kecepatan penanganan pasien.
Risiko kematian meningkat pada pasien dengan gejala berat, terutama yang mengalami gangguan pernapasan dan peradangan otak. Keterlambatan diagnosis dan keterbatasan fasilitas medis dapat memperburuk kondisi pasien.
Selain dampak kesehatan, wabah virus Nipah juga berdampak besar pada sektor ekonomi. Infeksi pada hewan ternak dapat menyebabkan pemusnahan massal, pembatasan distribusi, serta kerugian besar bagi peternak dan industri pangan.
Penanganan dan Upaya Pencegahan
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk virus Nipah. Penanganan pasien difokuskan pada perawatan suportif, seperti pemantauan ketat kondisi pasien, pemberian cairan, dukungan pernapasan, dan penanganan komplikasi saraf. Pendekatan ini sesuai dengan panduan dari Centers for Disease Control and Prevention.
Pencegahan menjadi langkah paling efektif. Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi buah yang terbuka atau jatuh, selalu mencuci dan mengupas buah sebelum dimakan, serta menghindari konsumsi nira mentah. Daging ternak harus dimasak hingga matang, dan kontak langsung dengan hewan yang diduga terinfeksi sebaiknya dihindari.
Bagi tenaga kesehatan, petugas laboratorium, dan keluarga yang merawat pasien, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi harus dilakukan secara disiplin. Dengan pemahaman yang baik dan kewaspadaan bersama, risiko penyebaran virus Nipah dapat ditekan tanpa menimbulkan kepanikan di masyarakat.
