Di tengah situasi yang sempat memanas akibat penjarahan, Uya Kuya mengambil sikap yang cukup mengejutkan. Ia memilih untuk tetap mempertahankan rumahnya.
Keputusan ini disampaikan secara langsung sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan publik.
Ia menyadari bahwa banyak yang mengira dirinya akan menjual rumah tersebut setelah kejadian itu.
Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
Rumah sebagai Bagian dari Perjalanan Hidup
Bagi Uya, rumah tersebut bukan sekadar aset. Ia menyebutnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa dipisahkan.
Setiap ruangan memiliki cerita, setiap sudut menyimpan kenangan.
Hal ini yang membuatnya sulit untuk melepaskan rumah tersebut, apapun kondisinya saat ini.
Ia bahkan menyebut rumah itu sebagai “saksi perjalanan”.
Luka dari Kejadian yang Masih Terasa
Meski terlihat tegar, Uya tidak menampik bahwa kejadian penjarahan tersebut meninggalkan luka.
Tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.
Ia mengaku sempat merasa kecewa dan marah. Namun, ia memilih untuk tidak berlarut-larut dalam perasaan tersebut.
Sebaliknya, ia mencoba bangkit dan melihat ke depan.
Keluarga Jadi Alasan Utama Bertahan
Salah satu alasan terbesar ia tetap mempertahankan rumah adalah keluarga.
Ia ingin memberikan rasa stabil dan aman bagi orang-orang terdekatnya.
Menurutnya, pindah atau menjual rumah justru bisa menambah tekanan baru.
“Yang penting kita tetap kuat bareng,” katanya.
Tidak Ingin Menghapus Sejarah
Uya juga menegaskan bahwa menjual rumah sama saja dengan menghapus sejarah yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Ia tidak ingin kehilangan jejak perjalanan hidupnya hanya karena satu kejadian buruk.
Baginya, setiap masalah pasti ada jalan keluar tanpa harus mengorbankan hal yang lebih besar.
Dengan sikap ini, ia menunjukkan bahwa nilai sebuah rumah tidak selalu bisa diukur dengan uang.
