Poligami : Itu Bukan Lifestyle, Menurut Aktivis Perempuan di Aceh

Jurnalharian.id – Pemerintah Provinsi serta Dewan Perwakilan Rakyat Aceh( DPRA) tengah menggodok rancangan Qanun( Perda) Hukum Keluarga yang salah satu babnya mangulas poligami. Aktivis wanita di Aceh memperhitungkan poligami tidaklah bagaikan style hidup.

” Bicara poligami bukan perkara kepanikan wanita sebab pada dasarnya kita seluruh tidak menafikan kalau Mengenai poligami terdapat dalam ajaran Islam,” kata aktivis wanita di Aceh Muazzinah Yacob.

Bagi Muazzinah, kedatangan qanun tersebut jangan menjadikan seolah- olah poligami jadi style hidup. Tetapi tidak menguasai esensi dari perkawinan lebih dari satu tersebut.

” Bila hadirnya qanun ini cuma memaksakan sikap secara galat seakan Poligami jadi lifestyle untuk yang sanggup tetapi tanpa memandang esensi dari poligami itu sendiri. Poligami bukan lifestyle,” jelas dosen di Universitas Islam Negara( UIN) Ar- Raniry Banda Aceh ini.

Baca Juga : Pakaian Yang Dicari Sewaktu Menjelang Ramadhan

” Sepanjang mana esensi ketentuan poligami berjalan dengan baik berbasis pada prinsip keterbukaan, kesejahteraan, serta keadilan. Bila berkata mau turut Rasulullah, jangan setengah- setengah, tetapi secara merata. Kapan serta mengapa Rasulullah SAW berpoligami. Perihal ini bukan sebab Nabi menjajaki hawa nafsunya,” ucapnya.

Muazzinah pula mengkritik pihak legislatif yang sering membuat qanun serta menjadikan wanita bagaikan objek.

” Jangan hingga ranah pokir( pokok benak) dewan sebatas bab poligami. Serta seringnya ketentuan cuma wanita bagaikan objek demi terdapatnya anggaran buat qanun,” sebutnya.

Semacam dikenal, Pemerintah Provinsi serta Dewan Perwakilan Rakyat Aceh( DPRA) tengah menggodok rancangan Qanun Hukum Keluarga yang salah satu babnya mangulas poligami. Salah satu alibi poligami mau diatur dalam qanun merupakan maraknya aplikasi nikah siri yang terjalin apabila laki- laki mau menikah lagi.

Baca Juga : Batik Di Tengah Sidang DK PKB Dari Mana?

Wakil Pimpinan Komisi VII DPR Aceh Musannif berkata poligami pada dasarnya diperbolehkan setimpal hukum dalam agama Islam serta sudah diatur dalam Alquran. Tetapi sepanjang ini banyak orang menikahi wanita secara siri ataupun tidak tercatat oleh negeri sehingga pertanggungjawaban terhadap istri serta anak dari nikah siri itu jadi tidak jelas.

” Sepanjang ini kan sebab diperbolehkan oleh hukum Islam, gempar terjalin kawin siri yang kita ketahui. Hingga dengan gempar terbentuknya kawin siri ini pertanggungjawaban kepada Tuhan ataupun anak yang dilahirkan ini kan lemah,” kata Musannif.