Pengantar: Situasi Terkini di Sumut
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda beberapa daerah di Sumatera Utara (Sumut) dalam beberapa hari terakhir telah mengguncang kehidupan masyarakat. Berdasarkan pernyataan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, kerusakan yang terjadi di Ekosistem Harangan Tapanuli, khususnya di kawasan Batang Toru, menjadi penyebab utama bencana ini. Kejadian ini memberi pelajaran penting tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Rianda Purba, mengungkapkan bahwa banyak wilayah yang terdampak parah adalah Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga. “Kondisi ini semakin memperlihatkan betapa kritisnya situasi di kawasan hutan kita,” katanya. Itulah sebabnya penting untuk memahami akar permasalahan ini agar langkah-langkah perbaikan bisa segera dilakukan.
Selama ini, banyak yang menganggap bencana alam sebagai fenomena yang tidak bisa dielakkan. Namun, Walhi menegaskan bahwa intervensi manusia, seperti penebangan liar hutan, berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko bencana.
Kerusakan Ekosistem Batang Toru
Hutan Batang Toru merupakan salah satu hutan tropis yang esensial di Sumatera Utara, berfungsi sebagai penyangga alam dan juga sebagai sumber keanekaragaman hayati. “Hutan ini memiliki banyak spesies langka yang seharusnya dilindungi. Kehilangan hutan berarti kehilangan habitat bagi mereka,” ungkap Rianda.
Secara administratif, tutupan hutan Harangan Tapanuli terbagi di Tapanuli Utara (66,7%), Tapanuli Selatan (22,6%), dan Tapanuli Tengah (10,7%). Hutan ini tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga mendukung kehidupan masyarakat sekitar. “Kami menemukan bahwa setiap bencana yang terjadi membawa serta kayu-kayu besar yang terbawa arus. Ini menjadi indikasi bahwa penebangan hutan telah berlangsung secara masif,” tambah Rianda.
Menurut data, laju deforestasi di kawasan ini akibat faktor manusia, seperti pembukaan lahan untuk pertambangan dan perkebunan, semakin meningkat. “Kebijakan yang membuka ruang bagi perusahaan untuk beroperasi tanpa memperhatikan dampak lingkungan menyebabkan kerusakan yang tak tertanggungkan,” jelasnya.
Alasan di Balik Banjir dan Longsor
Setiap kali terjadi curah hujan tinggi, dampaknya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan. “Banjir dan tanah longsor sering kali dianggap sebagai akibat dari hujan terus menerus, tetapi kami harus ingat bahwa aktivitas manusia berperan besar dalam hal ini,” kata Rianda.
Dokumen kajian risiko bencana nasional tahun 2022-2026 mengindikasikan bahwa wilayah Batang Toru berada dalam kategori berisiko tinggi terhadap bencana. “Hanya Kabupaten Samosir yang masuk dalam kategori risiko rendah. Lainnya sudah dipetakan sebagai kawasan rawan,” jelasnya.
Informasi ini sangat penting untuk dijadikan acuan dalam pembuatan kebijakan. Jika langkah-langkah mitigasi tidak segera diambil, situasi ini hanya akan semakin memburuk.
Mempertahankan Keanekaragaman Hayati
Salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah keanekaragaman hayati yang ada di hutan Batang Toru. Kawasan ini menjadi habitat bagi satwa langka seperti Orangutan Tapanuli, harimau Sumatera, dan tapir. “Jika kerusakan ini terus berlanjut, banyak spesies langka yang terancam punah,” ungkap Rianda.
Kerusakan hutan akibat aktivitas penebangan liar menyebabkan dampak jangka panjang yang tidak bisa dianggap sepele. Kehilangan habitat berarti mengancam daur hidup beberapa spesies penting yang seharusnya dilindungi.
Dalam hal ini, perlunya tindakan tegas terhadap pelaku penebangan liar penting untuk menjaga keanekaragaman hayati yang ada. “Keberadaan spesies langka bukan hanya merupakan aset lingkungan, tetapi juga bagian dari warisan budaya dan ekosistem yang harus kita jaga,” tambahnya.
Tindakan Pemerintah dan Keterlibatan Masyarakat
Walhi mendesak pemerintah untuk menindak tegas semua aktivitas industri yang merusak hutan. Penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan yang terbukti terlibat dalam penebangan liar sangat diperlukan. “Kami meminta agar pemerintah menghentikan aktivitas industri ekstraktif di Ekosistem Batang Toru,” tegas Rianda.
Dalam kerangka ini, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap izin-izin yang diberikan kepada perusahaan yang beroperasi di sana. Keterlibatan masyarakat dalam proses ini juga sangat penting agar mereka memiliki hak untuk melindungi hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka.
“Pemerintah harus berpihak pada masyarakat dan lingkungan, bukan hanya pada kepentingan industri,” jelas Rianda. Kesadaran akan perlunya menjaga lingkungan seharusnya tidak hanya menjadi tugas tetap pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama antara masyarakat dan sektor swasta.
Memetakan Wilayah Rawan Bencana
Dalam menghadapi bencana, penting untuk memetakan wilayah rawan bencana secara lebih akurat. “Kegiatan pemetaan ini akan membantu dalam merumuskan langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif,” jelas Rianda.
Melakukan kajian risiko secara berkala dan melibatkan masyarakat dapat memberikan gambaran yang lebih baik tentang situasi yang ada. Masyarakat harus dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan program mitigasi sehingga mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang risiko yang ada.
“Tanpa adanya pemetaan dan rencana mitigasi yang tepat, masyarakat akan selalu berada dalam ancaman ketika musim hujan tiba,” tambahnya.
Dukungan untuk Masyarakat Terdampak
Pasca bencana, masyarakat yang terdampak memerlukan berbagai bantuan. Berdasarkan catatan Polda Sumut, ada banyak warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana ini. “Kami mendorong pemerintah untuk segera menyediakan bantuan yang diperlukan bagi mereka yang mengungsi,” ungkap Rianda.
Dukungan ini bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga mental. Trauma akibat kehilangan harta benda dan cara hidup harus diperhatikan agar masyarakat dapat pulih secara menyeluruh.
“Pemerintah, selain memberikan bantuan materi, juga harus memikirkan aspek psikologis dari masyarakat yang terdampak,” tambahnya. Dengan pendekatan yang holistik, diharapkan masyarakat akan menemukan harapan baru setelah bencana.
Kesadaran Lingkungan yang Perlu Ditingkatkan
Masyarakat di sekitar Batang Toru kini lebih sadar akan pentingnya lingkungan hidup. Pendidikan lingkungan diharapkan bisa lebih ditingkatkan untuk mengajarkan generasi muda tentang perlunya menjaga ekosistem. “Kita perlu menjaga keutuhan hutan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk generasi mendatang,” kata Rianda.
Program-program pelestarian dapat dimulai dari tingkat sekolah hingga komunitas. Masyarakat juga diajak untuk berperan aktif dalam kegiatan pengawasan terhadap aktivitas penebangan liar yang masih terjadi.
“Kesadaran yang tinggi di kalangan masyarakat dapat membantu menjaga hutan yang ada,” ujarnya. Tanpa dukungan dari komunitas, usaha menjaga lingkungan akan sulit terlaksana.
Kerja Sama untuk Masa Depan yang Berkelanjutan
Melihat situasi yang ada, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi sangat diperlukan. “Tanpa adanya kerja sama, tidak mungkin kita bisa menjaga ekosistem Batang Toru yang begitu penting,” ungkap Rianda.
Dialog antara semua pihak perlu dibangun agar berbagai kebijakan dapat disusun secara partisipatif dan tidak hanya bersifat top-down. Melalui forum diskusi yang melibatkan masyarakat, harapan untuk mencapai solusi yang adil menjadi lebih besar.
“Kami berharap agar semua pihak bisa bersatu dalam upaya melestarikan lingkungan,” tutup Rianda. Hanya dengan bekerja sama, kita bisa menghadapi tantangan yang ada dan memastikan bahwa Batang Toru tetap lestari untuk masa depan.



















