Tempe selama ini hadir sebagai makanan sehari-hari yang sederhana dan mudah dijangkau. Namun, sejumlah penelitian terbaru mulai mengangkat posisi tempe ke tingkat yang berbeda. Tidak lagi sekadar lauk pendamping, tempe kini diteliti karena potensinya dalam mendukung kesehatan otak.
Laporan yang dimuat oleh detikHealth menyebut bahwa tempe mengandung berbagai zat gizi dan senyawa aktif yang berkaitan dengan fungsi kognitif. Beberapa hasil riset bahkan menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi tempe dan peningkatan daya ingat, khususnya pada kelompok lanjut usia.
Riset Tunjukkan Hubungan dengan Daya Ingat
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Dementia and Geriatric Cognitive Disorders menemukan bahwa lansia yang lebih sering mengonsumsi tempe memiliki kemampuan memori yang lebih baik dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.
Hasil ini diperkuat oleh studi intervensi dalam Frontiers in Nutrition. Dalam penelitian tersebut, konsumsi tempe dalam periode tertentu dikaitkan dengan peningkatan skor kognitif sekitar 1 hingga 2 poin. Peningkatan ini terutama terlihat pada aspek kemampuan mengingat.
Sebagai perbandingan, penurunan fungsi kognitif pada lansia merupakan proses alami. Studi dalam Journal of the American Geriatrics Society mencatat bahwa penurunan skor kognitif pada lansia sehat dapat terjadi sekitar 0,1 hingga 0,3 poin per tahun, dan lebih cepat pada kondisi tertentu.
Dalam konteks ini, peningkatan skor kognitif setelah konsumsi tempe menjadi temuan yang menarik. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut masih terbatas pada jangka pendek.
Fermentasi Jadi Faktor Pembeda
Salah satu keunggulan utama tempe terletak pada proses fermentasinya. Proses ini tidak hanya mengubah kedelai menjadi lebih mudah dicerna, tetapi juga menghasilkan senyawa bioaktif yang tidak ditemukan pada kedelai biasa.
Dalam 100 gram tempe, terkandung sekitar 18 hingga 20 gram protein, 10 hingga 11 gram lemak, serta 7 hingga 9 gram karbohidrat. Selain itu, tempe juga mengandung folat yang penting bagi fungsi saraf.
Fermentasi juga menghasilkan vitamin B12 dalam jumlah kecil. Vitamin ini berperan dalam menjaga kesehatan sistem saraf dan mendukung fungsi otak.
Selain itu, tempe mengandung isoflavon, yaitu senyawa antioksidan dari kedelai. Kandungan ini berkisar antara 30 hingga 60 mg per 100 gram dan diketahui memiliki potensi melindungi sel saraf dari kerusakan.
Tempe juga mengandung mikroorganisme yang dapat mendukung kesehatan usus. Kesehatan usus memiliki kaitan dengan fungsi otak melalui mekanisme gut-brain axis, yang dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan fungsi kognitif.
Kajian Awal Terkait Alzheimer
Selain fungsi memori, penelitian juga mulai mengkaji potensi tempe dalam kaitannya dengan penyakit Alzheimer. Studi dalam Journal of Ethnic Foods menunjukkan bahwa ekstrak tempe dapat menekan ekspresi gen yang berhubungan dengan penyakit tersebut.
Gen yang dimaksud antara lain PSEN1, Gsk3b, cdk5, dan TNF, yang berperan dalam pembentukan plak beta-amyloid dan peradangan otak. Selain itu, tempe juga menunjukkan aktivitas anti-asetilkolinesterase yang membantu menjaga kadar neurotransmiter asetilkolin.
Tempe juga memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang dapat membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan, dua faktor yang sering dikaitkan dengan penyakit neurodegeneratif.
Namun demikian, sebagian besar penelitian ini masih dilakukan di tingkat laboratorium. Artinya, manfaatnya pada manusia masih perlu dibuktikan melalui penelitian lanjutan.
Perlu Dilihat sebagai Bagian dari Pola Hidup Sehat
Meski memiliki potensi, tempe bukanlah solusi tunggal untuk menjaga kesehatan otak. Para ahli menekankan pentingnya pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan gaya hidup sehat secara keseluruhan.
Tempe dapat menjadi salah satu sumber protein nabati yang bergizi tinggi dan mudah diakses. Namun, klaim sebagai pencegah Alzheimer masih memerlukan bukti ilmiah lebih lanjut.
Dengan berbagai temuan awal yang ada, tempe kini mulai dilihat sebagai makanan dengan nilai lebih. Tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak.
Sumber: detikHealth



















