Pernahkah kita berpikir, ketika kita pergi ke sebuah tempat yang antah berantah dan merasa loss direction ? atau bahasa Inggrisnya keblasuk. Keblasuk bukan Blusukan ya..catet…Kemudian kita tanya ke orang daerah situ, dan kesimpulannya kita tambah bingung dan malah tambah mblusuk lagi.

Nah jaman sekarang ketika aplikasi google maps dan variaanya dibantu dengan teknologi GPS membuat banyak orang menjadi seperti pergi dekat saja, atau seperti sudah berkali kali ke situ ke sebuah tempat yang baru sekali itu kita datangi.

Ya dengan aplikasi google maps + GPS + Smartphone + Paket Data semakin membantu kita untuk mengetahui jalan atau path menuju kesebuah tempat yang akan dituju. Ada memang banyak jalan dan pilihan. Tetapi path terbaik dan jarak terpendeklah yang akan terpilih.

Nah pokok pikiran apa? Ide apa yang bisa dijadikan basis teori pola kerja google maps itu bekerja? Kok bisa ya sedetail itu. Walau kadang malah bisa kita ngaco muter muter kemana mana karena voice directionnya mengarahkan berdasarkan kalkulasi.

Kambing hitam, biang keroknya adalah Dijkstra.

Siapa Dijkstra ? Apa itu Dijkstra? Menurut wikipedia. Dijkstra adalah nama orang, seorang ilmuwan komputer. Nama ktp nya Edsger Dijkstra. Dia menemukan sebuah algoritma tentang shortest path problem. Definisi menurut wikipedia yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Algoritma Dijkstra  

Definisinya adalah sebuah algoritma yang dipakai untuk memecahkan permasalahan jarak terpendek(shortest path problem) untuk sebuah graf berarah directed graph) dengan bobot-bobot sisi (edge weights) yang bernilai tak-negatif. Itu saduran definis versi saya.

Misal begini, jika vertices dari sebuah graf melambangkan kota. Misalnya Jogja, Magelang, Muntilan, Ambarawa dan bobot sisi (edge weights) melambangkan jarak antara kota-kota tersebut, maka algoritma Dijkstra dapat kita jadikan atau digunakan untuk menemukan jarak terpendek antara kota kota tersebut.

Secara teori Input algoritma ini adalah sebuah graf berarah yang berbobot (weighted directed graph) G dan sebuah sumber vertex s dalam G dan V adalah himpunan semua vertices dalam graph G.

Setiap sisi dari graf ini adalah pasangan vertices (u,v) yang melambangkan hubungan dari vertex u ke vertex v. Himpunan semua tepi disebut E.

Bobot (weights) dari semua sisi dihitung dengan fungsi

w: E → [0, ∞)

jadi w(u,v) adalah jarak tak-negatif dari vertex u ke vertex v.

Ongkos (cost) dari sebuah sisi dapat dianggap sebagai jarak antara dua vertex, yaitu jumlah jarak semua sisi dalam jalur tersebut. Untuk sepasang vertex s dan t dalam V, algoritma ini menghitung jarak terpendek dari s ke t.

sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Algoritma_Dijkstra

Nah kalau kita sudah melihat kutipan dari wikipedia diatas. Kita kemudian membuka aplikasi google maps dan akan berpergian dari Jogja ke Magelang. Tentu akan banyak path tersedia. Akan banyak alternatif. Disini pengambilan keputusan path mana yang diambil sudah dikalkulkasi oleh google maps dengan algoritma Djikstra untuk membantu kita memilih jalan terpendek, bahkan bisa melihat jalan mana yang macet atau tidak.

Algoritma yang ditemukan Djikstra berdampak sosial ke kehidupan manusia. Mungkin kalau Edsger Dijkstra melihat, bahwa temuannya banyak menolong orang banyak dalam bermigrasi dari titik 1 ke titik lainnya. Dari kota satu ke kota lainnya. Dari desa ke kota, atau dari kota ke desa. Edsger Dijkstra pasti bahagia dan tersenyum simpul dengan gigi putih ala pepo eh pepsodent…

Comments

comments